Prinsip Perencanaan Partisipatif

Mei 06, 2017 Add Comment

Pengembangan Desa ada yang menganut Prinsip-prinsip Participatory Rural Appraisal (PRA). Prinsip PRA merupakan filosofi dasar metode PRA. Prinsip ini memuat sikap dan pandangan kita tentang cara mengembangkan program pembangunan yang bercita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan menghormati sesama.

  1. Pemberdayaan, yaitu penguatan kemampuan yang telah ada dan pengalihan kemampuan baru kepada masyarakat. Penguatan masyarakat dilakukan dengan cara mendorong mereka melaksanakan semua tahap kegiatan sebagai proses saling belajar. Mengutamakan yang terabaikan, yaitu memperhatikan kelompok masyarakat yang terpinggirkan seperti kelompok miskin, lemah terabaikan dan minoritas. Selain itu, juga berpihak kepada kelompok perempuan yang paling sedikit mendapat kesempatan menjadi pelaku aktif pembangunan.

  2. Masyarakat sebagai pelaku utama dan pihak luar sebagai fasilitator, bahwa pihak luar memfasilitasi dan saling bertukar pengalaman dengan masyarakat, bukan mengajari, menggurui, menyuruh dan mendominasi kegiatan. Peran pihak luar akan berkurang secara bertahap.

  3. Saling belajar dan menghagari perbedaan, bahwa semua pihak dapat saling menyampaikan pengetahuan dan pengalamannya untuk mengkaji pemecahan masalah yang tepat guna. Mengakui nilai pengetahuan tradisional, dan pihak luar juga terbuka untuk belajar dari cara masyarakat memecahkan masalah.

  4. Mengoptimalkan hasil, yaitu terus menerus memperbaiki lingkup dan mutu kajian informasi melalui pemahaman optimal dan kecermatan yang memadai. Pemahaman optimal dipahami, bahwa informasi yang dikumpulkan dianggap cukup menggambarkan keadaan waktu. Kecarmatan yang memadai diartikan, bahwa informasi yang dikumpulkan dapat dianggap mendekati benar. Orientasi praktis, bahwa penerapan PRA bukan hanya untukmenggali informasi, melainkan juga untuk merancang programbersama yang ditekankan pada penguatan kemampuan swadaya masyarakat.

  5. Keberlajutan dan waktu selang, bahwa pengembangan program berlangsung menurut daur program (yang berulang) dalam jangka waktu tertentu. Selama berproses akan selalu terjadi keadaan dan permasalahan yang selalu mengalami perubahan.

  6. Terbuka, bahwa PRA bukanlah sebuah perangkat yang telah sempurna dan cocok mengingat PRA dirancang kondisional. Dinamika ini akan mengembangkan dan memperkaya pengalaman sebagai sebuah pembelajaran yang berharga.

Tik Wall Clading Produksi Sumberbening

Mei 01, 2017 Add Comment
Tik Wall Clading (Pelapis Dinding) Desa Sumberbening. Foto-Pojokpitu

Salah satu hasil olahan produk kayu yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Sumberbening, Kecamatan Bringin adalah Tik Wall Clading (Pelapis Dinding). Terbuat dari limbah bekas usaha kayu jati yang disulap menjadi bahan siap pakai untuk mempercantik dinding rumah.

Adalah Bambang, salah satu pengusaha di Sumberbening ini memulai usaha ini sejak tahun 2013. Awalnya digunakan untuk rumah sendiri, namun karena permintaan cukup banyak, Bambang memproduksi untuk dikirim ke luar Ngawi dan juga ada yang telah menembus pasar ekspor.

Proses pembuatan produk ini cukup sederhana namun perlu ketelatenan. Seperti dijelaskan oleh Bambang, tumpukan limbah kayu jati yang umumnya hanya dipakai sebagai bahan bakar oleh masyarakat setempat, satu persatu dilem diatas papan kayu menyesuaikan cetakan.

Potongan - potongan ini dirapikan dan dihaluskan agar rata dan selanjutnya dijemur langsung dibawah sinar matahari. Setelah kering, cetakan dilepaskan dan siap untuk digunakan/dikirim.

Untuk mempermudah pengiriman, setiap potongan tik wall clading ini dikemas dalam berbagai ukuran. Meski harus melalui tangan kedua, produk ini sudah mencapai pasar internasional dan sangat potensial, usahanyapun bertambah besar dengan jumlah pekerja mencapai 24 orang.

Sama seperti puluhan UKM berbasis kayu lainnya, pada umumnya kendalanya pada bidang pemasaran, sehingga bisa dilakukan pendampingan dan pembinaan untuk lebih mengoptimalkan hasil.