Taman Bambu Air Waduk Sangiran

Juni 17, 2017 Add Comment

BRINGIN – Menjadi target tujuan wisata yang potensial memang terus dikembangkan oleh beberapa kawasan wisata yang sudah lama ada di Ngawi. Tentunya untuk mendukung program Ngawi Visit Year 2017 semua berlomba – lomba untuk mempercantik diri sekaligus melakukan optimalisasi.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Karang Taruna Desa Sumberbening, Kecamatan Bringin ini. Adanya Waduk Sangiran yang berada di desa Sumberbening ini menurut Kepala Desa Sumberbening, Hanif Hermawan memang sangat potensial untuk dikembangkan.

Hanif mengajak Bina Taruna, nama dari Karang Taruna Desanya untuk memoles Waduk Sangiran menjadi destinasi wisata yang menarik sekaligus bisa menambah pendapatan desanya.

Taman Bambu Air Waduk Sangiran, inilah yang dibuat oleh tim yang dibawah naungan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Sangiran Berseri untuk menarik para wisatawan menikmati eksotisnya waduk pondok.

Taman yang mengapung di tengah waduk ini terbuat dari bambu dengan kreasi yang unik berupa gapura bambu lengkap dengan kursi bambu dan hiasan tanaman serta sepeda diatasnya. Selain untuk swa foto (selfie) lokasi ini juga bisa digunakan sebagai lokasi pre wedding.

Untuk menuju taman bambu air ini, pengunjung terlebih dahulu harus naik perahu dengan tarif Rp. 20.000 , bisa untuk 6-7 orang, sedangkan tarif per per orangnya adalah Rp. 3000. Pengunjung bisa berfoto dengan asyik di atas taman bambu air ini dengan segala gaya yang mereka inginkan.

Menurut Sutiyono, Ketua Karang Taruna Desa Sumberbening, wahana ini akan ditambah terus untuk melengkapi taman bambu air.

“InsyaAlloh akan dikembangkan beberapa spot untuk mendukung taman ini, seperti kita akan membuat sebuah pulau di tengah waduk lengkap dengan taman yang asri, kita akan namakan dengan Pulau Cinta,” terang Sutiyono, Senin (15/05/2017).

Sutiyono menambahkan, selain bisa berfoto selfie di Taman Bambu Air Waduk Sangiran, pengunjung juga bisa memanfaatkan perahu untuk berkeliling waduk dengan biaya Rp. 60.000. Pun juga bagi anda yang hobbi memancing, bisa langsung sewa perahu sendiri dengan harga Rp. 120.000.

Sementara itu Tukiman, Ketua Bumdes menyampaikan bahwa semua operasional dari wahana wisata di Waduk Sangiran ini sepenuhnya dikelola oleh Bumdes dan akan terus dikembangkan hingga semakin memarik.

Untuk menuju Waduk Sangiran kamu bisa masuk dari Desa Jatipuro Kecamatan Karangjati (Jalan Raya Ngawi – Caruban km 25) dari situ masuk ke Utara. Selain itu juga bisa dari Jembatan Kantor Pos Dusun Bangon Desa Karangjati ke Utara hingga masuk desa Sumberbening. Kurang lebih 2 km ada persimpangan pertigaan Pasar Kecil atau warung – warung Sumberbening ambil jalan kanan 50 meter menikung kekiri atau ke Utara lurus kurang lebih 1 km.

Yuk berkunjung ke Taman Bambu Air Waduk Sangiran silakan berfoto sepuasnya dan tentunya unggah di sosial media untuk mengenalkan Ngawi kepada dunia. Jangan lupa, tetap jaga kebersihan dan selalu mengutamakan keselamatan. (alfa/cse)

Sumber : KampoengNgawi.com

Menteri Eko Dorong Bumdesa Jadi Sumber Utama Pengembangan Desa

Juni 07, 2017 Add Comment

JAKARTA - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo menegaskan bahwa dikucurkannya Dana Desa (DD) hanya sebagai stimulus pembangunan desa. Oleh karena itu, pembangunan desa seyogyanya harus bersumber dari pendapatan lain, yakni Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Terkait hal tersebut, Ia menyatakan Indonesia telah memiliki banyak BUMDes yang sukses. Contohnya adalah BUMDes di Desa Ponggok, Kabupaten Sleman, yang pada tahun 2016 mampu meraih untung Rp10,3 Miliar. Keuntungan tersebut berbanding jauh dari jumlah DD yang diterima Desa Ponggok yang berjumlah sekitar Rp600 juta per tahun.

"BUMDes itu seratus persen milik desa. Uangnya untuk desa dan kebijakan-kebijakan desa. Karena BUMDesnya kaya, sekarang sudah bikin jalan (desa) sendiri. Dia (Desa Ponggok) punya program semua rumah wajib mengirimkan anaknya ke perguruan tinggi, dibiayai," jelas Menteri Eko dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (7/6/2017).

Contoh lain, lanjutnya, adalah BUMDes di Desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul, yang awalnya sangat kotor. Kemudian dibentuklah BUMDes melalui bisnis bank sampah, di mana melalui bank sampah, BUMDes tersebut mampu meraup untung hingga Rp75 juta per bulan.

"Banyak hal yang bisa dilakukan. Cuma memang harus diakui bahwa tidak semua Kades dan pengurus BUMDes itu kreatif," tuturnya.

Di sisi lain, Menteri Eko mengatakan, dana yang masuk ke desa jumlahnya sangat besar. Tak hanya DD yang berjumlah Rp60 triliun, pembangunan desa juga dibantu oleh 19 kementerian/lembaga yang total anggarannya mencapai Rp560 triliun.

"Karena tahun ini lebih dari separuh atau lebih sedikit dari APBN kita didistribusikan ke daerah," ungkapnya.

Di samping itu, menurutnya, empat program prioritas pemerintah, yakni Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), Embung Desa, BUMDes, dan Sarana Olahraga Desa, mampu mendorong desa-desa di Indonesia lepas dari ketertinggalan.

"Nah pemerintah membuat empat program unggulan ini, kalau dilakukan serempak, saya yakin kurang dalam lima tahun tidak ada lagi desa-desa tertinggal," ujarnya Menteri Eko optimis.

Sumber : JPP.go.id

Konsep Perencanaan Pengembangan Desa

Juni 06, 2017 Add Comment

Konsep perencanaan pengembangan desa mencakup 5 dimensi sebagai pilar utama yaitu menyangkut tata ruang desa, perekonomian desa, sosial budaya desa, mitigasi bencana, lingkungan hidup.

  • TATA RUANG DESA : rehabilitasi, rekonstruksi dan pengembangan desa. Selain itu, juga mampu menampung pertumbuhan ruang di masa datang secara fleksibel dan mampu menampung kebutuhan perbaikan struktur tata ruang desa melalui konsolidasi lahan (jika diperlukan). Konsep ini sesuai dengan muatan PP no 2 tahun 2005.

  • PEREKONOMIAN DESA : meningkatkan penghidupan masyarakat dan pembangunan sarana ekonomi berbasis potensi lokal, pengembangan usaha mikro, kelembagaan ekonomi dikaitkan dengan sumber daya manusia.

  • SOSIAL BUDAYA DESA : pembangunan pendidikan, sosial dan penguatan adat istiadat setempat dalam rangka pengembangan partisipasi masyarakat yang melibatkan segenap lapisan masyarakat, termasuk di dalamnya kelompok anak-anak pemuda dan wanita.

  • MITIGASI BENCANA : penataan ruang desa dengan fungsi khusus yaitu mitigasi bencana, berupa pembangunan daerah daerah yang rawan bencana dan tempat tempat yang digunakan untuk penampungan evakuasi warga ketika terjadi bencana.

  • LINGKUNGAN HIDUP : penataan lingkungan yang menjaga keseimbangan holistik antara kawasan budidaya dengan kawasan lindung dalam upaya menjaga kelestarian penghidupan sebagian besar masyarakat. Penataan dilakukan juga terhadap pengelolaan di sektor pertanian, termasuk perkebunan, perikanan, kehutanan untuk meminimalisir ketidakseimbangan ekosistem.

Tas Ransel Sumberbening

Juni 05, 2017 Add Comment

BRINGIN – Sebuah gang kecil di belakang kantor desa Sumber Bening nampak ada satu rumah yang membuat mata saya terus terpusat. Rumah yang di depannya terpajang banner ukuran 1×1.5 meter tersebut bertuliskan “Menerima Pesanan Grosir dan Eceran.” Setelah seksama memperhatikannya ternyata merupakan sebuah home industry tas ransel.

Dari pantauan redaksi, belum pernah temui sebelumnya di daerah Ngawi ada tempat pembuatan tas ransel apalagi rumahan. Mungkin bila menyodorkan produk tersebut kepada orang yang belum mengetahui keberadaan home industry ini, pasti akan dikira produk buatan pabrik atau dari luar kota Ngawi.

Memang tas ransel produksi Sumber Bening, Bringin ini tidak kalah dengan buatan pabrik atau kota besar lainnya. Qodir (32), empat tahun terakhir ini memang tengah merintis usaha tas ransel. Keahliannya membuat tas didapat sedari kecil secara otodidak. Pria asal Lamongan tersebut kemudian mempersunting Lina (27) dan kini mereka tinggal di Sumberbening, Bringin, Ngawi dan merintis usaha tas bersama-sama.

Awalnya produk yang dibuat adalah tas ransel, kemudian mulai merambah ke tas jenis lain juga dompet. Pemasarannya belum ke luar pulau karena masih minimnya pemesan dan terbatasnya media promosi.

“Sementara kalau ke luar pulau belum kita lakukan karena belum ada pesanan,” terang Qodir kepada redaksi.

Istrinya, Lina, bertugas memotong bahan yang nantinya dijahit oleh Qodir menjadi tas yang apik dan hampir tidak bisa dibedakan dengan tas buatan pabrik. Satu tas ransel dapat diselesaikan kurang dari dua hari dan dompet bisa diselesaikan tidak sampai satu jam, tergantung tingkat kesulitannya.

Tas Ransel Sumberbening Ngawi Kualitasnya Teruji dan harganya terbilang murah. Tas ransel yang kuat dan kokoh tersebut harganya sangat terjangkau, tidak sampai ratusan ribu. Qodir mengaku belum berani membandrol harga tinggi, takut apabila tidak ada pemesan.

“Gak apa-apa kami laba sedikit yang penting ada pembeli, kita belum berani pasang harga tinggi,” ungkap Lina.

Peluang bisnis melalui jejaring sosial seperti Facebook dan Instagram belum ia coba lantaran belum memasang aplikasi tersebut. Sementara ini, Qodir beserta istri mempromosikan tas yang diberi merek “Balqis” tersebut lewat mulut ke mulut.

Qodir menyampaikan, pernah menerima pesanaan 200 tas sekolah, tas seragam untuk siswa baru di sekolah tersebut. 200 tas tersebut ia kerjakan dengan istrinya.

“Kami memang belum ada niatan untuk merekrut karyawan, selain karena pesanan pasang surut juga modal belum terlalu besar,” akunya.

Home industry tas “Balqis” dengan kualitasnya itu tentunya mampu bersaing dengan tas buatan pabrik. Semua bahan yang diperlukan Qodir didapat dari Surabaya. Ia mengaku harus ke sana langsung untuk mendapatkan bahan tersebut. Selain itu semua tas yang dibuat belum dipasarkan ke toko.

Anda berminat memesan? Silakan langsung saja mendatangi home industry “Balqis” yang terletak di Jl. Waduk Sangiran Sumber Bening tak jauh dari kantor Kepala Desa Sumber Bening, kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi.(Friliya)

Sumber : KampoengNgawi.com

Pengembangan Desa Wisata

Juni 04, 2017 Add Comment
Ilustrasi : Sebuah Kawasan Desa Wisata di Yogyakarta

Desa Wisata adalah komunitas atau masyarakat yang terdiri dari para penduduk suatu wilayah terbatas yang bisa saling berinteraksi secara langsung dibawah sebuah pengelolaan dan memiliki kepedulian serta kesadaran untuk berperan bersama sesuai ketrampilan dan kemampuan masing-masing memberdayakan potensi secara kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan serta terwujudnya Sapta Pesona sehingga tercapai peningkatan pembangunan daerah melalui kepariwisataan dan memanfaatkannya bagi kesejahteraan masyarakat di wilayah itu.

Desa Wisata merupakan kelompok swadaya dan swakarsa masyarakat yang dalam aktivitas sosialnya berupaya untuk meningkatkan pemahaman kepariwisataan, mewadahi peran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan di wilayahnya, meningkatkan nilai kepariwisataan serta memberdayakannya bagi kesejahteraan masyarakat, keikut sertaan dalam mensukseskan pembangunan kepariwisataan.

Desa Wisata dibentuk untuk memberdayakan masyarakat agar dapat berperan sebagai pelaku langsung dalam upaya meningkatkan kesiapan dan kepedulian dalam menyikapi potensi pariwisata atau lokasi daya tarik wisata di wilayah mereka agar dapat berperan sebagai tuan rumah yang baik bagi para wisatawan yang berkunjung, serta memiliki kesadaran akan peluang dan kesiapan menangkap manfaat yang dapat dikembangkan dari kegiatan pariwisata untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Tujuan dari pembentukan Desa Wisata untuk meningkatkan posisi dan peran masyarakat sebagai subjek atau pelaku penting dalam pembangunan kepariwisataan, serta dapat bersinergi dan bermitra dengan pemangku kepentingan terkait dalam meningkatkan kualitas perkembangan kepariwisataan di daerah, membangun dan menumbuhkan sikap dan dukungan positif masyarakat sebagai tuan rumah melalui perwujudan nilai-nilai Sapta Pesona bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di daerah dan manfaatnya bagi pembangunan daerah maupun kesejahteraan masyarakat dan memperkenalkan, melestarikan dan memanfaatkan potensi daya tarik wisata yang ada di masing-masing daerah.

Fungsi Desa Wisata merupakan sebagai wadah langsung bagi masyarakat akan kesadaran adanya potensi Wisata dan terciptanya Sapta Pesona di lingkungan wilayah di destinasi wisata dan sebagai unsur kemitran baik bagi Pemerintah propinsi maupun pemerintah daerah (kabupaten/kota) dalam upaya perwujudan dan pengembangan kepariwisataan di daerah.

Adapun Kriteria pengembangan Desa Wisata adalah adanya 4A + C1 yaitu :

  1. Memiliki Attraction/atraksi wisata unggulan
  2. Memiliki Amenities/Kelembagaan
  3. Memiliki Aksesibilitas/Sarana-Prasarana yang memadai
  4. Memiliki Ancilliries/Akomodasi wisata pendukung
  5. Memiliki Community Involvement/Keterlibatan Masyarakat

Adapun langkah-langkah pengembangan Desa Wisata dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :

Petakan wilayah dengan mengidentifikasi potensi alam, sosial, budaya yang ada di desa serta dengan mengatur peruntukan wilayah desa dengan membagi wilayah menjadi Utama, Madya dan Nista. Menata wajah desa dengan memperbaiki fasilitas umum, pemukiman, Pura, kuburan serta yang lebih penting membaskan wilayah kita dari sampah terutama plastik.

Siapkan Sumber Daya Manusia, Kelembagaan, dan Jaringan

  • Buat aturan main pengelolaan Desa Wisata
  • Bentuk Badan Pengelola
  • Rancang program kerja (pendek, menengah dan panjang)
  • Kembangkan jaringan dan kerja sama

Ada beberapa prinsip utama yang harus diperhatikan dalam pengembangan Desa Wisata diantaranya :

Kendalikan kepemilikan lahan dengan kontrol tetap di desa:

  1. Tumbuhkan jiwa bersaing sehat
  2. Setia pada proses awal pengembangan Desa Wisat dan jangan beranggapan bahwa Desa Wisata dapat berjalan secara instant.
  3. Hendaklah bergerak secara bersama antara dinas dan adat
  4. Tetap seperti semula dan jangan berubah karena menjadi desa wisata serta yang terpenting dengan selalu menjaga kahuripan Bali.